Dewasa ini seringkali kita dikagetkan akan berbagai perkembangan teknologi yang begitu pesat. Rasa-rasanya baru kemarin kita memiliki salah satu perangkat yang dapat melakukan komunikasi pesan dan suara jarak jauh, namun tak disangka saat ini semua itu sudah sangat ketinggalan zaman. Tidak hanya di teknologi komunikasi, di berbagai sektor teknologi lainnya juga mengalami perubahan yang demikian signifikan dan cepat. Pernahkah kita berpikir sejenak mengapa hal tersebut bisa terjadi? Adakah dampak yang dihasilkan dari fenomena tersebut terhadap kehidupan manusia secara umum? Dan bagaimana manusia merespon hal tersebut?

Fenomena inilah yang seringkali dikenal dengan istilah disrupsi, menurut saya disrupsi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh sekumpulan manusia (society) untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada, dengan secara tidak langsung meninggalkan teknologi yang digunakan sebelumnya. Fenomena disrupsi itu sendiri, saat ini bukanlah yang pertama terjadi. Jauh sekali sebelum hari ini, manusia senantiasa selalu berkembang mengikuti zaman, dan tidak jarang kecanggihan teknologi yang hadir pada suatu zaman dapat menggantikan pola bagaimana manusia itu sendiri dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.

Pada zaman berburu dan meramu misalkan, sejak ditemukan teknologi bercocok tanam pada abad-100 sebelum masehi, secara perlahan manusia sudah mulai meninggalkan kebiasaan ber-nomaden mereka untuk tinggal menetap di suatu tempat bersama-sama.

Begitu pula yang terjadi pada abad-18 saat revolusi industri terjadi, ketika teknologi mesin uap pertama kali ditemukan. Manusia secara tidak langsung dipaksa untuk bisa calistung (baca tulis hitung) agar bisa menjadi salah satu pekerja di berbagai sektor pabrik yang sedang berkembang pesat.

Tidak berhenti sampai disitu, kehadiran teknologi internet pada abad-20 juga memaksa berbagai sektor industri untuk menyesuaikan, pola kegiatan bekerja seperti marketing dan operation, hingga pola kegiatan sehari-hari (selain bekerja) juga berubah dari kegiatan di dunia fisik ke dunia digital.

Lantas, akankah berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak! Teknologi internet melakukan perkembangan yang begitu fantastis di beberapa dasawarsa ini. Terbukti dari mulai hadirnya berbagai rupa perangkat keras baru seperti Virtual and Augmented Reality, Smart Assistance, Automatic Vehicle, dll. Semua teknologi tersebut bisa hadir karena potensi dari internet itu sendiri yang begitu besar.

Di dunia industri sendiri, potensi dari internet ini dikembangkan menjadi sebuah Big Data. Dimana sebuah industri mampu melakukan pemetaan terintegrasi dari hulu (supplier) ke hilir (customer) agar proses bisnis berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Di sektor yang lain, beberapa industri juga mulai menawarkan jasa IoT (Internet of Things), dimana berbagai aktivitas kita sehari-hari dapat dikontrol dengan satu perangkat yang kita miliki.

Selain berkembang menjadi Big Data dan IoT, kecanggihan dari internet juga dapat melahirkan sebuah Artificial Intelligence (AI). Dalam Bahasa Indonesia AI dikenal dengan istilah kecerdasan buatan, yaitu sebuah teknologi yang diciptakan dengan diberi kecerdasan seperti manusia, melalui serangkaian proses learning & correction secara otomatis.

Perkembangan IoT, Big Data, dan AI ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi pola kehidupan manusia kedepannya. Berikut adalah beberapa contoh perubahan yang akan terjadi di beberapa sektor industri saat IoT, Big Data, dan AI sudah diimplementasikan secara terintegrasi:

1. Sektor Kesehatan

Pengobatan secara online dan juga pendataan riwayat penyakit akan menggantikan berbagai peran di dunia kesehatan khususnya klinik fisik yang belum terintegrasi antara satu dengan yang lainnya.

2. Sektor Mobilitas

Berbagai produk otomasi seperti halnya auto-drive car dan auto-delivery drone akan menggantikan sistem transportasi dan pengiriman tradisional yang membutuhkan banyak sekali SDM terutama pengemudi dan kurir.

3. Sektor Infrastruktur

Di dunia infrastruktur, tidak dibutuhkan lagi monitoring dan evaluasi berkala secara manual. Dengan sistem machine learning pada AI dan Big Data kita dapat melakukan hal tersebut  secara digital dan otomatis.

4. Sektor Keuangan

Transaksi keuangan akan menjadi jauh lebih efisien tanpa adanya transaksi fisik, karena semuanya dapat dilakukan secara digital dan mudah dengan menggunakan fintech (financial technology).

Empat sektor yang dipaparkan sebelumnya, hanyalah empat contoh dimana peran teknologi di masa depan akan mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di satu sisi, kita dapat melihat hal tersebut sebagai suatu harapan, dimana banyak sekali permasalahan dapat diselesaikan oleh teknologi tersebut. Namun di sisi yang lain, kita juga dapat melihat kehadiran teknologi tersebut sebagai sebuah ancaman yang serius, JIKA kita tidak mempersiap- kannya dengan baik.

Jika kita kupas ulang beberapa contoh sebelumnya, kemanakah para asisten dokter akan bekerja jika perannya sudah digantikan oleh komputer yang dapat mempertemukan pasien dengan dokter secara langsung? Juga para driver transportasi umum serta kurir jika kendaraan mereka bisa berjalan secara otomatis? Juga para insinyur yang setiap hari melakukan evaluasi berkala, tetapi sudah tidak diperlukan demikian? Dan para teller bank ketika semua nasabah berpindah untuk melakukan transaksi via online?

Hal tersebut bukanlah lagi suatu hal yang baru di perkembangan peradaban manusia. Jika kita ingat-ingat lagi apa yang dipaparkan pada bagian awal, tentunya kita akan berpikir kemanakah para pemburu di era bercocok tanam? Dimanakah para pembajak tanah saat mesin traktor ditemukan? Dan dimanakah para penjual retail saat semua barang bisa dibeli secara lebih mudah dan murah melalui toko online? Jawabannya adalah mereka bertransformasi. Tidak ada yang kehilangan pekerjaan, mereka hanya berubah pekerjaan. Dari pemburu menjadi petani, dari petani menjadi buruh, dan dari buruh menjadi admin.

Dimana ada perubahan pekerjaan, disitu pula akan ada perubahan keterampilan yang dibutuhkan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberikan anugerah berupa pikiran yang dapat membantu mereka untuk terus beradaptasi dan berinovasi. Sudut pandangnya harus diubah, dari melihat pekerjaan apa saja yang nantinya akan hilang, menjadi keterampilan apa saja yang harus dipersiapkan.

“65% of children entering primary school today will ultimately end up working in completely new job types that don’t yet exist.” -World Economic Forum, 2018

Berbagai pihak sudah melakukan studi dan riset tentang keterampilan apa saja yang sebaiknya para siswa pelajari agar mereka siap menghadapi tantangan di abad-21 di masa depan. Dan kumpulan dari berbagai keterampilan itulah yang dikenal dengan istilah keterampilan abad-21 (21st century skills). Kita tidak akan melakukan perbandingan antara studi yang dilakukan satu pihak dengan pihak yang lainnya, karena pastinya setiap studi memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda. Dan juga kita tidak akan menggabungkan semua keterampilan yang disimpulkan karena konteks dimana itu diimplementasikan dan kepada siapa itu ditanamkan menjadi cukup penting untuk diperhatikan.  Dan pada akhirnya, konsep pendidikan keterampilan abad-21 yang paling relevan dengan siswa di Indonesia adalah LSCE (Life Skills and Citizenship Education: “A Four-Dimensional and Systems Approach to 21st Century Skills”) yang dirancang oleh UNICEF.

Pada konsep keterampilan abad-21 didalam LSCE ini, terdapat empat dimensi yang masing-masing didalamnya terdapat tiga keterampilan atau kecakapan yang semestinya dimiliki oleh peserta didik di abad-21. Keterampilan ini dapat ditanamkan kepada anak-anak kita dengan berbagai cara, mulai dari proses pendidikan formal di sekolah, homeschooling, pendidikan non-formal seperti halnya les, ekstrakurikuler, dll. Yang pasti pendidikan keterampilan ini semestinya dilakukan secara bertahap sesuai dengan usia dan karakter seorang anak. Selain bertahap, ke-12 keterampilan tersebut juga sebaiknya ditanamkan secara menyeluruh oleh seluruh pihak yang terlibat dalam tumbuh kembang anak, diantaranya: keluarga, sekolah, dan pendidikan pendukung lainnya.

Adapun definisi untuk 12 keterampilan abad-21 menurut LSCE, Unicef adalah sebagai berikut:

Skills Definition
CreativityThe ability to approach problems and tasks in new and different ways.
Critical ThinkingThe ability to analyse information thoroughly, including distinguishing myths from facts and considering different opinions and perspectives.
Problem SolvingThe ability to resolve a problem to the satisfaction of all parties involved.
CooperationThe ability to work together with others towards a common goal.
NegotiationThe ability to consider people’s different needs and perspectives to achieve the best possible outcome for everyone involved.
Decision MakingThe ability to choose the best course of action from a range of possibilities and consider the consequences of different decisions.
SelfManagementThe ability to understand the potential impact of one’s thoughts and actions on themselves and others, and change them if needed
ResilienceThe ability to ‘bounce back’ after difficult experiences.
CommunicationThe ability to express one’s ideas and beliefs in a convincing manner.
Respect for DiversityThe ability to respect and value different people and their perspectives, beliefs, ideas and opinions.
EmpathyThe ability to consider the needs and feelings of others.
ParticipationThe willingness to be part of a team activity or group discussion.

Kalananti sebagai salah satu pusat pendidikan keterampilan abad-21 telah mengambil salah satu peran pada penanaman keterampilan abad-21 ini, yaitu: menanamkan dimensi “learning” yang terdiri atas: kreativitas, berpikir kritis, dan penyelesaian masalah. Melalui berbagai program seperti: creative problem solving for kids (design thinking for kids), STEAM, dll.

Namun disini kami menyadari bahwa untuk membentuk seorang anak agar memiliki keterampilan abad-21 yang menyeluruh sesuai dengan studi yang dilakukan oleh UNICEF di atas, dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak lain, seperti: sekolah, para profesional (expert), dan juga orang tua sebagai pendidik pertama dan utama seorang anak. Adapun tiga dimensi lain yang membutuhkan kolaborasi tersebut adalah untuk menanamkan beberapa keterampilan berikut, yang diantaranya: kerja sama, negosiasi, pengambilan keputusan, manajemen diri, ketahanan diri, komunikasi, toleransi, empati, dan partisipatif, semestinya mulai ditanamkan sejak dini. Agar mereka siap menghadapi tantangan global yang akan mereka hadapi di kala nanti (di masa depan).

 Sumber Animasi: NewsPicks Brand Design

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *